Cinta sangat sulit diartikan dan diukur, sebab cinta tergantung
pada jati diri orang masing-masing. Namun jika dianalisis dari perjalan kisah
cinta bebarapa orang maka, dapat diartikan bahwa cinta adalah rasa ketertarikan dan
emosi atas dalamnya kasih sayang yang di miliki seseorang terhadap lawan
jenisnya. Akan tetapi kuatnya cinta tanpa kebenaran akan bisa berujung dengan
air mata kepahitan.
Benar tidaknya pernyantaan diatas mungkin dapat diresapi
dalam sebuah kisah perjalanan hubungan yang kandas di tengah jalan. Kisah cinta berawal
dari egoisme yang tak ingin kalah dalam dunia pacaran, sehingga seorang pangeran menyatakan cinta buta kepada sang bidadari yang cantik jelita. Dengan penuh
hati-hati sang bidadari tak ingin langsung menerima godaan sang pangeran. Meskipun
menunggu sang pangeran tak kunjung merayu dengan seribu jurus andalan demi
membuktikan kepada orang, khususnya teman-temannya bahwa dia bisa mendapat sang
jelita meskipun ia tidak mencintainya.
Rayuan demi rayuan sang cantik jelita pun tertusuk hatinya
meskipun ia memiliki sudah memiliki pacar, ia memutuskan sang kekasihnya demi
pangeran baru yang muncul di hatinya. Sang kekasih pun tentu sakit hati di
putuskan. Siapa yang tidak sakit hati jika tak ada salah namun tiba-tiba sang
kekasih minta putus. Tapi apa adanya hati mau berkata apa jika belahan hati
sudah ingin pergi, hanya bisa pasrah dengan keadaan dan menanggung rasa kecewa
dan sakitnya hati yang hanya dapat diobati waktu berlalu.
Sebaliknya si cantik jelita merasakan kebahagian yang tak
terhingga di hati karena merasa mendapat pasangan hidupnya selamanya, waktu
berjalan terus hubungan pun terus berjalan. Meskipun sang pangeran tetap
berpura-pura mencinta dan menyayangi namun ia tetap mencari-cari wanita yang
sesuai keinginannya. Pancarian sang pangeran tak pernah mendapat rasa curiga
dari si jelita. Justru sang jelita semakin cinta dan sayang dengan pujaan
hatinya yang memberikan cinta palsu.
Seiring berjalannya waktu sang pangeran merasa nyaman dengan
seorang perempuan yang baru di kenal di dunia maya. Dengan rasa nyaman sehingga
sang pangeran memutuskan untuk mengakhiri cinta palsunya dan mendapatkan
belahan hatinya. Tak tanggung-tanggung sang pangeran meminta untuk melakukan
keinginnannya di sebuah acara TV. Kini tibanya waktunya sang pangeran berada
dalam situasi aksi nekatnya dengan mempertemukan dua bidadari.
Sang pangeran dalam keadaan bingung memulai kata-katanya
kepada wanita yang begitu mencintainya karena ia ingin di saat itu hubungannya
berakhir. Apalag sang kekasihnya itu menduga jika ia akan di lamar di acara TV
tersebut. Detik demi detik akhirnya sang pangeran pun menyatakan dengan jujur
bahwa ia ingin putus karena tidak mencintainya melainkan hanya ingin
membuktikan kepada teman-temannya bahwa mendapatkan wanita cantik.
Si cantik pun terkejut dan bertanya apa yang sang pangeran katakan
adalah hal yang serius, dengan hati yang sedih meminta maaf sebab apa yang ia katakana
sebuah keseriusan dengan alas an sudah merasa nyaman dengan perempuan lain. Air
mata tak berhenti mangalir dari mata si cantik jelita yang seakan-akan tak bisa
menerima kanyataan pahit dan sungguh kejam.
Kini kebahagian si cantik jelita menjadi kesedihan yang
begitu menyakitkan dalam dirinya. Kebahagian sang bidadari berawal dari kesddihan
oleh sang kekasih pertamanya dan berujung pula dengan kesedihan yang dialami
dirinya sendiri yang bahkan lebih kejam sebab di putuskan di sebuah acara yang
di saksikan ribuan mata. Disinilah terjadi kejamnya karma cinta kerena berawal
dari ketikbenaran. Memutuskan pacar tanpa salah adalah sebuah ketidak benaran,
dan itulah yang dilakukan sang bidadari saat mendapat rayuan dari sang pangeran
yang tidak mencintanya.
By: Admin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar